Kesalahan Orang Tua Dalam Mendidik Anak

Menjadi orang tua memang nggak ada sekolahnya. Karena itulah kita sebagai orang tua seringkali salah dalam mengasuh dan mendidik anak-anak. Ada beberapa kesalahan orang tua dalam mengasuh dan mendidik anak yang sudah menjadi kebiasaan dilakukan di masyarakat kita. Sehingga kadang tanpa sadar kita juga melakukannya.

1. Anak tidak pernah salah

Pasti kita pernah melihat anak balita yang terjatuh dan menangis, lalu kemudian orang tua sibuk menghiburnya supaya tangisannya berhenti dengan mengatakan, “ Siapa yang nakal dek? Ubinnya ya? Mama pukul ya ubinnya biar nggak nakal lagi sama adik!”. Lalu dilanjutkan dengan adegan memarahi dan menasihati si ubin supaya nggak nakal lagi sama anaknya. Hihihi… Padahal kan aslinya mungkin si anak yang kurang berhati-hati saat berjalan. Karena kejadian ini sering sekali terjadi di sekitar kita, lalu kita meniru dan melakukan hal yang sama kepada anak-anak kita. 

Padahal apabila ini terjadi berulang-ulang anak akan memaknai bahwa ia nggak pernah salah. Yang salah itu selalu benda lain atau orang lain. Apabila anak merasa selalu benar, anak bisa menjadi sulit diajak untuk introspeksi diri. Suatu saat apabila kita melihat anak kita suka melawan, bisa jadi ini juga karena terbiasa diperlakukan demikian, karena tanpa sadar kita sudah mengajarkan anak kita tidak pernah merasa bersalah. Sementara adegan memukul-mukul ubin juga bisa membuat anak memaknai bahwa apabila ada suatu benda atau seseorang yang ia anggap salah, ia berhak memukul benda atau orang tersebut.

Jadi lebih baik ketika anak terjatuh dan menangis, kita memfasilitasi perasaannya, kemudian memeriksa apakah ada bagian yang terluka serius? Lalu setelah tangisannya berhenti bisa mulai kita berikan masukan pada anak agar laibn kali jalannya atau larinya hati-hati.

2. Kakak harus selalu mengalah pada adiknya

Mungkin karena anak yang usianya lebih tua mungkin dianggap memiliki pengalaman yang lebih banyak dibanding yang lebih muda, sering sekali orang tua meminta anak yang lebih tua untuk mengalah kepada yang muda. Yang paling sering terjadi adalah si kakak yang diwajibkan untuk mengalah kepada si adik. Kakak diminta selalu maklum dengan perilaku si adik karena adik dianggap masih kecil. Padahal di banyak pertengkaran antara adik dan kakak, justru adik lah yang jahil pada kakaknya. 

Efek negatifnya apabila ini terjadi berulang akan mengahsilkan hubungan yang kurang harmonis antara kakak dengan adiknya. Kakak akan menganggap punya adik itu nggak enak. Bahkan di sebagian kasus, kakak merasa nggak disayang sama orang tuanya, bahkan sampai membenci adiknya. Sementara adik akan menjadi semakin egois karena merasa sebagai pihak yang selalu di bela. Kebiasaan membela adik juga memunculkan kebiasaan “membela yang lemah.”. Padahal sesungguhnyan yang perlu dibela adalah yang benar. Jadi sebaiknya sejak kecil anak mengetahui kebenaran dan kesalahan dari perilakunya terlepas ia lebih muda atau lebih tua.

3. Suka menakut-nakuti anak

Seringkali demi meringankan tugas kita sebagai orang tua, kita pakai jurus menakut-nakuti anak supaya anak cepat nurut. Misalnya: "Udah malem nih dek! Kalau kamu nggak tidur-tidur nanti nenek lampir dateng lho! Hiiiiii, sereeeeem!!! Nenek lampir kan rambutnya panjang, kusut, warnanya putih, matanya melotot. Hayo tidur sekarang!”. Atau: 

"Kalau kamu nakal nanti ditangkep polisi lho!”. 

“Kalau nggak mau makan nanti disuntik sama pak dokter!”.

“Kalau main diluar nanti diculik penjahat kamu!”

Padahal jurus menakut-nakuti ini malah membuat anak menjadi merasa nggak aman dengan lingkungannya. Karena setiap hari dihantui perasaan-perasaan yang menakutkan dirumah sendiri, anak akan menjadi penakut. Sifat anak yang penakut akan membuat anak tidak berani mencoba hal-hal baru. Alhasil anak menjadi nggak kreatif. Selain itu ia akan salah memaknai orang-orang disekitarnya. Misalnya takut dengan dokter yang sesungguhnya justru bisa menolong disaat ia sakit. Begitu juga polisi yang sebenarnya bisa menjadi tempat kita untuyk m eminta pertolongan dan perlindungan. 

Parents, yuk kita lihat kembali. Apakah apa yang kita lakukan kepada anak-anak memberikan dampak yang baik atau justru memberikan dampak yang buruk untuk perkembangannya? Ada baiknya kita mulai menyadari bahwa setiap pengalaman yang kita berikan kepada anak-anak setiap harinya adalah pelajaran-pelajaran hidup yang akan mereka bawa sampai mereka dewasa. Karena kita, orang tuanya, adalah sekolah utama bagi anak-anak kita.

You are here: Home Kids Health Kesalahan Orang Tua Dalam Mendidik Anak