Anak Belajar Peduli

Momen lebaran kemarin adalah momen bertemunya kita dengan kerabat yang lebih tua. Saya banyak menyaksikan kejadian-kejadian seru nih pada momen ini. Terutama ketika para orang tua yang memiliki harapan yang cukup tinggi kepada anak agar bersikap manis kepada para kerabat yang jauh lebih tua. Sementara sikap anak-anak yang masih mementingkan diri sendiri sering nkali membuat orang tua menjadi kecewa. Salah satu contohnya ketika saya melihat salah seorang ponakan saya. Si kakak sedang asik duduk sambil makan, datanglah salah satu eyangnya yang sudah lama nggak ketemu. Karena tempat duduk saat itu penuh, akhirnya si ibu meminta kakak untuk memberikan tempat duduk pada eyang. Si anak yang sedang asik duduk menolak, dan akhirnya ibu meminta anak untuk peduli dengan eyang yang jauh lebih tua dengan sedikit memaksa, “Ayo dong kak! Ih kok kakak gitu sih?! Eyang kan mau duduk. Kasihan dong eyang kalau bediri terus. Ayo gantian duduknya sama eyang!”. Karena si kakak masih juga menolak, akhirnya si ibu menarik kakak agar berdiri. Adegan tersebut berending: kakak sebel sama si ibu, ibu lebih sebel lagi dengan kelakuan si anak, hehehe.

Yang perlu kita sadari sebagai orang tua adalah, bahwa sikap peduli nggak bimsalabim ada di dalam diri anak kita. Kebanyakan anak pada usia tertentu memang bersifat egosentris, hanya memikirkan kenyamanannya sendiri. Hal ini sangat wajar terjadi, jadi kita nggak perlu kesal apabila anak kita masih ada di tahapan seperti ini. Ini memang salah satu tahapan perkembangan dalam hidup anak. Justru orang tua perlu mengerti bahwa sebenarnya sikap peduli perlu distimulasi agar bisa tumbuh di jiwa anak. Tapi hati-hati, alih-alih mengajarkan anak peduli, malah kita mengajarkan anak memaksa seperti yang saya ceritakan diatas. 

Peduli memang bukan pelajaran yang mudah. Belajar peduli adalah belajar memberi. Dimana kita dengan ikhlas memberikan sedikit kenyamanan yang kita punya untuk orang lain. Ketika kita ingin mengajarkan anak peduli, paling efektif adalah dengan cara memberi tauladan, bukan menuntut anak agar peduli. Mencontohkan pada anak perilaku peduli bisa lewat hal-hal yang sangat sederhana. Misalnya menyayangi orang tua kita dengan bersikap sopan dan bertutur kata lembut dihadapan anak. Bisa juga mengajak anak menemani kita membelikan makanan kesukaan nenek untuk memberikan kejutan kecil misalnya. Ceritakan juga dulu nenek suka memberikan kejutan kepada ibu dengan membelikan makanan kesukaan ibu sepulang nenek dari pasar. Kita bisa mengungkapkan poerasaan kita juga pada anak, “Rasanya senaaaaaang sekali kalau nenek bawain ibu permen waktu itu. Nah sekarang ibu juga ingin bikin nenek senang. Temenin ibu yuk beliin nenek bolu pandan.”. Dengan begini lama kelamaan anak akan mencontoh perilaku kita.

Begitu juga dengan mengajarkan anak peduli dengan lingkungan atau orang-orang disekitar. Tak perlu memaksa anak, cukup mencontohkan setiap hari kepada anak agar suatu hari tumbuh kepedulian dijiwa anak. Misalnya dengan mengajak anak bermain di halaman sambil menemani kita menyiram tanaman. Ceritakan juga kepada anak tujuan kita menyiram tanaman setiap hari. Memiliki hewan peliharaan juga pelajaran yang sangat berharga lho untuk menstimulasi anak belajar peduli dengan mahluk hidup lain. Sekaligus mengajarkannya tanggung jawab dan rutinitas saat memberi makan kepada hewan peliharaan. 

Tapi jangan harap sikap peduli anak akan tumbuh dengan cepat lho yaaa... Orang tua perlu bersabar untuk mengajarkan peduli pada anak. Sikap peduli memang kemungkinan tumbuh sangat berlahan dijiwa anak. Namun apabila kita berabar, suatu hari kita akan terpana melihat sosok pribadi lemah lembut yang berhati emas tersenyum pada kita.

You are here: Home Kids Health Anak Belajar Peduli