Belajar dari Membuat Teh

Di zaman yang sudah serba instan ini, manfaat berpuasa semakin terasa, terutama untuk materi anak-anak belajar menunggu dan berproses. Biasanya, makanan selalu terhidang manis di meja makan dan bisa dimakan kapan saja saat anak lapar. Kalaupun dirumah sedang nggak ada makanan, makanan bisa cepat hadir diantar ojek online kan... Tapi disaat berpuasa, walaupun sedang lapar-laparnya, mereka tetap musti menunggu saat berbuka puasa untuk sekedar bisa memuaskan dahaga. 

Walaupun kelihatannya sederhana,  belajar menunggu dan berproses sangatlah penting untuk dipelajari anak-anak sejak kecil, terutama untuk anak-anak yang hidupnya serba mudah dengan fasilitas teknologi yang semakin hari semakin canggih saja.

Anak yang hidupnya serba mudah biasanya nggak mendapatkan banyak kesempatan untuk belajar bersabar menghadapi tantangan dan kesulitan. Karena kesulitan sudah semakin langka ditemui dalam hidupnya dengan adanya teknologi yang mempermudah mereka dalam melakukan berbagai hal. Sementara keterampilan bertahan menghadapi kesulitan dan mencari solusi itu butuh dipelajari secara jangka panjang. Tanpa kita sadari, justru teknologilah yang mematikan keterampilan anak-anak.

Contoh kecil saja adalah ketika bikin teh. Sekarang untuk membuat teh kita hanya memerlukan waktu kurang dari 3 menit. Tinggal menuang air panas dari dispenser ke dalam gelas, lalu masukkan gula dan tehnya, jadi deh! Jadi, ketika si kecil minta dibikinin teh, tanpa menunggu berlama-lama, teh langsung akan hadir dihadapannya. Beda banget kan dengan ketika kita masih kecil. Dulu, waktu saya mau teh, paling tidak saya harus menunggu ibu merebus air panas dulu untuk menyeduh tehnya. Merebusnya pun menggunakan kompor minyak. Terkadang, disaat ibu mau merebus air, sumbu kompornya habis. Demi ingin menikmati segelas teh, saya harus rela pergi ke warung untuk membeli sumbu. Pernah suatu hari ketika saya pergi ke warung untuk membeli sumbu, di warung tersebut sumbunya habis. Jadi saya harus berpikir untuk mencari solusi agar bisa mendapatkan sumbu kompor hari itu juga, jadi saya pergi ke warung lain  yang letaknya agak jauh dari rumah. 

Jadi, zaman dulu ketika saya masih kecil, hanya dari menginginginkan segelas teh saja saya harus belajar menunggu, bersabar, berproses, menghadapi masalah, dan juga mencari solusi. Masalahnya, semenjak teknologi semakin canggih, anak-anak sekarang semakin jarang menemui situasi-situasi belajar seperti itu. Ditambah lagi sifat orang tua yang nggak senang melihat anaknya kesusahan, selalu membantu bahkan tanpa diminta, membuat anak semakin jarang menemukan kesulitan sebagai bahan belajar untuk bekal menghadapi kehidupannya kedepan. Jadi nggak heran kalau semakin banyak saja yang mengeluhkan mental anak-anak sekarang yang dicap sebagai generasi yang kurang tangguh, cepat menyerah dan gampang frustasi.  

Padahal justru kebalikannya nih parents, di zaman yang cenderung serba mudah ini, ketika situasi dan kondisi sudah nggak mengajarkan anak-anak untuk berproses menjadi anak yang ’struggle', kita sebagai orang tua mustinya justru berstrategi menciptakan tantangan-tantangan bagi mereka agar dapat berproses untuk memiliki jiwa yang kuat di zaman yang serba instan ini. Memang nggak mudah, tapi kita sebagai orang tua harus menahan diri untuk tidak cepat-cepat memberikan solusi ketika anak kesulitan. Berikan mereka waktu untuk berpikir dan menemukan solusinya sendiri. Ketika pilihan solusinya salah, kitapun harus menahan diri agar anak merasakan konsekuensi dari kesalahannya dalam mengambil keputusan. Dengan begitu anak dapat belajar berjuang dan mengenal sebab-akibat sebagai bekalnya menuju dewasa. Gimana? Sudah siap?

You are here: Home Parenting Belajar dari Membuat Teh