Repotnya Mengajak Anak Berbelanja

Mengajak anak berbelanja, baik ke pasar ataupun ke supermarket adalah perjuangan tersendiri lho untuk seorang ibu. Bener nggak? Walaupun kita sudah berusaha menghindari lorong yang isinya penuh dengan mainan, tapi deretan rak penuh dengan snack menggiurkan sampai dengan pensil-pensil lucu dan alat mandi yang menggemaskan selalu berhasil membuat Si Kecil pulang dengan rengekan dan air mata. Haduuuuuh, kalau sudah begini rasanya nggak pingin deh mengajak anak lagi. Tapi, seringkali situasinya membuat kita mau nggak mau mengajak Si Keciljuga. Hmmm, tapi mungkin nggak sih membuat Si Kecil nggak merengek saat pergi ke supermarket?

Mungkin dong! ;)

Yang jelas kita harus berhenti bersifat spontan. Berdebat dengan anak saat mereka sudah mulai rewel minta dibelikan sesuatu di supermarket sudah pasti hanya menguras energi karena kemungkinan besar kita kalah. Anak belum memiliki sifat peduli, jadi tanpa peduli dengan perasaan kita dan lingkungan sekitar anak akan terus merengek sampai mendapatkan apa yang ia inginkan. Sementara kita yang sudah memiliki sifat peduli lama kelamaan akan merasa kasihan kepada anak dan akhirnya menyerah dengan membelikan barang yang diinginkan oleh Si Kecil. Belum lagi rasa nggak enak kita karena banyak mata yang memandang saat Si Kecil rewel, haduuuuh pasti membuat kita semakin bingung.

Hal yang perlu kita lakukan adalah membuat kesepakatan dari rumah berikut konsekuensinya ketika kesepakatan tersebut nggak berhasil ditepati oleh Si Kecil. Misalnya: “Adik boleh ikut bunda belanja, tapi disana adik nggak boleh rewel dan nggak minta beli apa-apa. Setuju? Kalau di supermarket nanti adik rewel atau minta beli-beli berarti adik nggak nonton tv dan nggak minum susu seharian ya.”. Pertama kali mencoba cara seperti ini, jangan harap langsung berhasil pada Si Kecilya, Moms. Bisa jadi mereka  mencoba konsistensi kita dengan tetap rewel dan meminta dibelikan sesuatu. Apabila Si Kecil tidak menepati janji, kita nggak perlu marah Moms, langsung saja jalani konsekuensinya. Ini akan melatih Si Kecil untuk menepati janji. Karena harapannya mereka akan merasakan pengalaman yang “nggak enak” dengan mendapatkan konsekuensi ketika ia melanggar janji. Pengalaman ini akan melatih Si Kecil untuk menepati kesepakatan yang dibuat. Karena itu, kita perlu memastikan konsekuensi yang dibubuhkan dalam perjanjian harus bisa membuat Si Kecil merasa nggak enak. 

Oh iya, konsekuensi itu nggak sama dengan hukuman. Konsekuensi sudah diketahui Si Kecil sejak awal karena dilampirkan dalam kesepakatan. Artinya Si Kecil sudah tahu bahwa ia nggak bisa minum susu dan nonton tv seharian ketika rewel di supermarket. Beda dengan hukuman yang datang tiba-tiba tanpa disebut sebelumnya dan tanpa persetujuan si kecil ketika Si Kecil menampilkan perilaku yang tidak disukai orang tuanya. 

Namun apabila kita nggak sanggup konsisten dengan kesepakatan, cara seperti ini hanya akan membuat Si Kecilbelajar berstrategi, seperti pura-pura nangis dan rewel agar mendapatkan barang yang diinginkan. Nah, apabila hati kita belum siap untuk konsisten, lebih baik belikan saja apa yang Si Kecil minta saat belanja di supermarket sebelum ia rewel dan belajar akting. Atau dari rumah sudah kita katakan pada si kecil bahwa ia boleh memilih sendiri sabun, sampo, pasta gigi dan dua macam snack yang ia suka. Jadi, mau pakai cara yang mana, Moms?

You are here: Home Parenting Repotnya Mengajak Anak Berbelanja