Ketika Anak Terlalu Dilindungi

Semua orangtua pasti selalu ingin memastikan anaknya ada dalam kondisi yang aman dan  baik-baik saja. Sikap ingin melindungi memang sifat alami yang dimiliki semua orangtua. Terlebih lagi ketika Si Kecil masih berusia  balita. Melindungi anak adalah dorongan dari rasa bertanggung jawab kita sebagai orangtua. Tapi perlu diingat juga sih, bahwa semua yang berlebihan itu bisa mengakibatkan efek samping yang kurang baik.

Anak usia balita sampai dengan usia SD memang sedang aktif-aktifnya. Logikanya, merusaha membuat anak duduk diam tanpa kegiatan menarik adalah suatu hal yang mustahil. Tapi kenyataannya masih banyak orangtua yang ngotot memarahi anak kalau anaknya nggak bisa diam, hehehe… Biasanya hal ini terjadi karena orangtua ingin anaknya terhindar dari hal-hal yang membuat anaknya menghadapi resiko yang membuatnya merasa nggak nyaman. Alhasil orangtua melarang anaknya lari-larian, memanjat, melompat-lompat dengan berbagai alasan. Dari mulai takut Si Kecil terjatuh dan terluka, takut bajunya kotor, takut keringetan dan lain sebagainya. Adanya risiko yang akan terjadi bila Si Kecil dibiarkan melakukan aktivitas bermainnya membuat akhirnya orang tua membatasi dan juga banyak melarang anak melakukan kebutuhan bergeraknya.

Padahal saat anak melakukan kegiatan bermainnya yang aktif, anak sedang belajar banyak hal. Belajar mengasah percaya diri, belajar mengambil keputusanya sendiri, belajar menghadapi risiko, dan yang nggak kalah penting anak jadi belajar mengontrol tubuhnya dengan baik. Kenapa belajar mengontrol tubuh dengan baik menjadi salah satu pengalaman yang penting buat anak-anak? Karena hal ini sangat diperlukan, terutama ketika Si Kecil mulai banyak berinteraksi dengan anak lain. Anak yang cenderung bermain dengan aman dirumah, tidak punya pengalaman yang cukup untuk menguasai gerakan dan kekuatan pada tubuhnya. Yang dikhawatirkan adalah, ketika Si Kecil mulai banyak berinteraksi dengan anak lain di sekolah, ia tidak lihai mengontrol kekuatan tubuhnya akibat kurangnya pengalaman Si Kecil. Sehingga merekadapat memukul terlalu keras saat menepuk bahu temannya, atau kurang lihai mengendalikan tangannya sehingga tanpa sengaja memukul temannya ketika bermain peran sebagai superhero misalnya. Hal ini dapatmembuat Si Kecil jadi sering terlibat konflik dan akhirnya membuat hubungannya kurang baik dengan kawan-kawannya.

Selain itu, anak yang memiliki pengalaman yang kurang dalam merasakan sensasi pada gerakan tubuhnya akibat permainannya sehari-hari yang terlalu aman, dapat menjadi anak yang tak dapat mengontrol badannya dengan baik. Hal ini bisa membahayakan keselamatan Si Kecil saat kita tidak ada disampingnya. Misalnya saat pelajaran olahraga di sekolah atau saat berlari dengan temannya. Khawatirnya mereka nggak tahu kapan harus berhenti saat berlari, bagaimana memperkirakan jauh dekat saat melompat, bagaimana reaksi tepat yang dapat menyelamatkan dirinya ketika terjatuh. 

Jadi anak-anak dirumah saya biarkan berlari, melompat, atau bahkan memanjat saat bermain dirumah. Tentu saja saya melihat juga seberapa besar risikonya. Apabila risiko yang mungkin muncul adalah Si Kecil bisa terjatuh dan terluka dilututnya, saya biarkan saja ia bermain agar ia punya pengalaman lebih banyak dalam menggunakan gerakan tubuhnya. Biarkan ia belajar mengontrol tubuhnya. Ketika terjatuh, anak juga jadi belajar menghadapi risiko. Bahkan ketika terluka, anak belajar berproses saat melewati luka yang tidak cepat sembuh. Anak-anak kita yang hidup di dunia yang serba instan perlu belajar melewati proses-proses yang ternyata tidak semuanya bisa dibuat instan. Ini saya sebut: belajar hidup.

You are here: Home Parenting Ketika Anak Terlalu Dilindungi