Bullying VS Konflik

Ketika anak-anak kita mulai memasuki usia sekolah dan banyak berinteraksi dengan teman-teman yang lain, saat itu pula orang tua mulai khawatir dengan topik hangat yang sering dibahas belakangan yang sering membuat resah. Yup, bullying. Tentu saja wajar apabila kita sebagai orang tua merasa takut apabila anak-anak kita menjadi korban bullying. Walau sebenarnya anak kita juga memiliki kemungkinan menjadi pelaku bully. 

Kenapa sih belakangan banyak muncul kasus-kasus bullying? Perasaan zaman dulu nggak seramai ini. Dulu pengetahuan orang tua tentang bully-membully angat kurang, sehingga orang tua nggak banyak membahas mengenai topik ini. Sekarang? Justru sebaliknya. Karena banyak informasi tentang bullying yang membuat orangtua menjadi sangat khawatir, semua cerita ketidaknyamanan anak disekolah akibat perilaku temannya disebut dengan bullying. “Aduh, gimana nih?! anak gue dibully!!!”. Hati-hati juga ya parents, kita bisa misskonsepsi. Bedakan antara bullying dan konflik.

Ketika anak kita dibully, memang mirip-mirip kejadiannya dengan ketika anak kita berkonflik dengan temannya. Hal ini karena bullying adalah penggunaan kekerasan, ancaman, paksaan untuk mengintimidasi orang lain. Namun perilaku bully melibatkan ketidak seimbangan kekuasaan fisik atau sosial. Jadi bullying adalah bentuk perilaku agresi dengan kekuatan DOMINAN pada perilaku yang dilakukan berulang-ulang dengan tujuan mengganggu korban yang lebih lemah darinya. Jadi, sebenarnya ketika terjadi suatu hubungan yang tidak menyenangkan antara dua orang anak dengan kekuatan yang seimbang, besar kemungkinan itu bukan bullying. Mungkin saja anak kita sedang konflik dengan temannya. 

Tidak perlu bereaksi berlebihan dari orang tua ketika anak sedang berkonflik dengan temannya, karena dalam konflik tersebut anak sedang belajar menyelesaikan permasalahannya. Pada usia-usia sekolah, sangat wajar lho ketika anak terlibat dalam konflik. Yuk, kita mengenal anak-anak kita lebih jauh. Ketika anak berusia sekitar 7-8 tahun anak-anak mulai mampu berpikir abstrak, tapi masih sangat sulit untuk mereka dalam mengambil keputusn. Sementara itu, anak-anak memang sangat observer, tapi masih suka salah dalam menyimpulkan. Misalnya saja saat guru membagikan buku cerita dikelas untuk dibaca, bisa saja anak menganggap guru lebih sayang kepada temannya karena temannya mendapat buku yang menurutnya lebih menarik, misalnya. Ditambah dengan suasana hati yang mudah berubah, anak usia tersebut sedang senang berkompetisi. Apabila orang tua sering membiarkan anak menang dalam kompetisi-kompetisi dirumah, anak menganggap dirinya ‘jagoan’. Yang perempuan biasanya merasa dirinya ‘princess’ dirumah. Kebayang nggak kalau 20 sampai 30 anak seperti ini bertemu dalam satu kelas? Maka menjadi sangat wajar apabila anak sering menghadapi konflik dengan teman-temannya.

Ketika anak sedang menghadapi konflik, perhatikan keamanan mereka saat berkonflik. Apabila situasinya masih aman, biarkan mereka belajar menyelesaikan masalahnya sendiri. Jangan hentikan konflik diantara anak-anak hanya karena orang tua merasa gemas ingin konfliknya cepat selesai. Karena konflik memang tidak harus cepat selesai kok. Biarkan anak berproses untuk memahami perbedaan dirinya dengan orang lain, lalu mencari akal untuk menyelesaikannya. Disaat lain, ketika sedang santai, kita bisa memberikan berbagai informasi agar lain kali Si Kecil bisa menyelesaikan konfliknya dengan baik. Berikan informasi lewat cerita-cerita kita saat kita kecil atau membacakan buku cerita, dongeng dan juga menggambar bersama. 

Saya mulai diskusi dengan anak-anak, agar mereka tahu bahwa hidup yang baik bukan hidup tanpa konflik. Karena hidup tanpa konflik itu adalah mustahil. Didalam pertemanan, pekerjaan, atau hubungan personal, kita pasti menemukan konflik. Hidup yang baik adalah ketika kita bisa menyelesaikan konflik dengan baik. Ketika kita tetap bisa menciptakan hubungan yang harmonis dengan orang lain diantara konflik yang terus terjadi.

You are here: Home Parenting Bullying VS Konflik