Stop Kekerasan Pada Anak

Saya mau mengaku dosa nih, hehehe. Dulu,saya punya masa lalu yang kacau dalam mengasuh dan mendidik anak. Hal ini terjadi saat anak pertama saya masih berusia balita. Bisa dibilang saya adalah orang tua yang suka mengungkapkan kekesalan dan memberikan hukuman pada anak dengan kekerasan. Saat itu, mencubit, memukul, memaki serta mengancam adalah perilaku sehari-hari saya pada Davina. Kalau dibayangin sekarang, menyesalnya minta ampun deh! 

Untung saya punya banyak waktu dan kesempatan untuk memperbaiki pola asuh saya untuk anak-anak, setelah akhirnya saya tau bahwa segala bentuk kekerasan yang saya lakukan ternyata berdampak luar biasa buruk pada jiwa anak-anak. Mereka bisa merasa tidak dicintai dan juga tidak berharga dimata kedua orang tuanya bahkan orang-orang sekitarnya, sehingga anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang membenci dirinya sendiri, mudah frustasi dan juga sulit menjalin relasi dengan orang lain. Bahkan, anak-anak korban kekerasan yang berkelanjutan ternyata ada yang sampai menyimpan benci, dendam dan menampilkan perilaku menyimpang. 

Pada kenyataannya,ternyata masih banyak orang tua dan juga guru yang menganggap bahwa kekerasan adalah cara yang efektif untuk mendisiplinkan anak. Padahal, di dunia yang akses informasinya sudah terbuka lebar ini, kita bisa membaca banyak sekali artikel yang isinya pernyataan-pernyataan dari pakar mengenai dampak buruk dari perilaku kekerasan pada anak. Atau,jangan-jangan bahkan banyak yang belum menyadari bahwa perilakunya adalah bentuk kekerasan pada anak? Hmmmm, bisajadi… 

Tapi saya yakin, tentunya nggak ada orang tua yang bermaksud ingin menyakiti, justru lebih kepada ingin memberikan pembelajaran agar anak tidak mengulangi perilaku-perilakunya yang dianggap buruk. Namun, kita sebagai orang tua juga perlu memahami bahwa ketika anak melakukan kesalahan, sesungguhnya anak tidak bermaksud ingin melakukan perilaku buruk. Segala kesalahan yang dilakukan anak adalah sebuah proses belajar hidup. Hanya saja, orang tua perlu bersabar untuk mendampingi agar proses belajar tersebut tetap ada dalam koridor yang aman.

Dari pada marah, menghukum atau melakukan kekerasan pada anak, lebih baik ajak anak untuk membuat aturan tertulis di rumah yang disepakati bersama. Ajakan untuk menyumbangkan ide dan saran dalam pembuatan peraturan dirumah, agar anak merasa dilibatkan dan merasa dihargai. Jangan lupa lengkapi dengan konsekuensinya apabila peraturan tersebut dilanggar. Misalnya, sudah mandi sebelum jam 5 sore, kalau lewat dari jam 5 sore adik belum mandi berarti besok tidakbisanonton film kartun favoritnya. Dengan begini, anak akan terbiasa dengan aturan yang ada, asal orang tua juga konsisten.

Selain itu, sebaiknya jangan buat aturan terlalu banyak agar anak mudah menjalankannya. Penting sekali membuat anak merasa mampu menjalankan aturan di rumah, sehingga mematuhi peraturan menjadi hal yang menyenangkan untuk mereka. Pujian kecil berupa ucapan terimakasih karena sudah berhasil menjalankan aturan bisa jadi semangat untuk anak menjalankan aturan setiap harinya. Hindari membuat terlalu banyak aturan yang rumit, karena bisa membuatnya jadi frustasi. Setelah anak terbiasa menjalankan aturan dengan baik, orang tua bisa kembali melakukan rapat keluarga untuk menambahkan aturan baru deh, tentunya sesuai dengan usia anak. 

Jadi, stop melakukan kekerasan pada anak! Masih banyak cara belajar disiplin yang menghasilkan perilaku yang positif. Kuncinya cuma 1: Sabar dalam mendampingi anak untuk berproses jadi dewasa :)

 

You are here: Home Parenting Stop Kekerasan Pada Anak