Anak Suka Meniru Temannya

Rasanya pasti seneng banget deh liat Si Kecil mulai sekolah. Mulai terlibat dalam rutinitas yang seru, mulai belajar banyak hal. Bersosialisasi dan beradaptasi dengan lingkungan baru pastinya jadi hal menarik buat anak-anak. Tapi nggak sedikit juga nih orang tua yang akhirnya mengeluh karena merasa sejak sekolah, anak-anak jadi mulai meniru perilaku temannya yang negatif. Memukul, berteriak, mencubit, meludah, berkata kasar, dan banyak hal lain. Semenjak sekolah, mulai bermunculan deh perilaku anak yang tadinya nggak pernah kita lihat. 

Jangan panik kalau tiba-tiba Si Kecil melakukan hal diluar kebiasaannya. Reaksi kita yang berlebihan justru membuat mereka semakin penasaran dengan aksinya. Ketika anak-anak tertarik dengan reaksi orang dewasa di sekitarnya, biasanya malah membuat mereka akan mengulangi terus kebiasaan barunya yang kurang baik tersebut karena dianggap seru dan menarik. Dari pada marah-marah yang akhirnya beresiko ditiru juga oleh anak, ada beberapa hal lain yang bisa dilakukan ketika hal-hal yang tidak diinginkan ini terjadi.

Di rumah kami ketika anak-anak melakukan hal-hal yang menimbulkan kerugian seperti menumpahkan air, memecahkan gelas, atau mengotori ruangan, saya ajak mereka untuk bertanggungjawab. Saya biasakan mereka untuk mengajukan ganti rugi atas kerugian yang disebabkan.  Konsep ganti rugi adalah melakukan hal yang membuat orang yang tadinya merasa dirugikan bisa tersenyum kembali. Biasanya saya meminta ruangan dibereskan kembali. Nggak jarang juga ada penolakan dari anak-anak saya. Nah, agar tanggungjawab tetap berjalan, konsekwensinya anak-anak jadi nggak bisa menikmati seluruh fasilitas di rumah sebelum ruangan bersih seperti semula. Nggak bisa nonton tv, menikmati camilan favorit, bermain dengan mainannya sampai tanggungjawabnya selesai.

Ketika anak-anak meniru temannya seperti memukul, menendang, mencubit atau meludah ketika sedang emosi, hal yang sama saya terapkan. Daripada marah-marah, biasanya saya mengekspresikan rasa kecewa atau sakit kemudian meminta ganti rugi. Ganti ruginya bentuknya bisa apa saja yang membuat saya senang kembali. Misalnya meminta peluk, cium, ingin melihatnya makan sayur, ingin dibantu beres-beres kamar, minta diambilkan minuman dan lain sebagainya sesuai usia dan kemampuan anak tentunya. 

Ketika anak-anak sedang senang dan tenang, mulai deh masukkan informasi-informasi positif tentang perilaku yang baik. Fungsi tangan dan kaki, sopan santun, pentingnya berbicara yang baik, dan sebagainya. Biasanya informasinya saya sampaikan lewat bermain, menggambar bersama, bernyanyi atau membacakan cerita. Penting juga sesekali berdiskusi dengan anak-anak membahas tentang perilaku teman-temannya yang kurang baik. Tanyakan apa pendapatnya ketika melihat temannya melakukan perilaku-perilaku negatif tersebut. Agar muncul kesadaran pada anak bahwa itu adalah perilaku yang tak perlu ditiru. 

Banyak orang tua pasti pusing melihat fenomena ini. Semua orang tua inginnya anak-anak tampil manis dan sesuai dengan culture yang dibangun di rumah. Tapi yang perlu kita ingat, ya memang begitu cara anak-anak belajar kehidupan. Dengan mencoba banyak hal, termasuk jatuh bangun melakukan kesalahan dan mencoba bangkit kembali. Jadi nggak perlu juga kita membuat lingkungan Si Kecil jadi steril terhadap hal-hal yang kita anggap negatif. Justru, tugas kita untuk membangun benteng di jiwa anak agar suatu hari anak sanggup memfilter pengaruh negatif di lingkungannya.

You are here: Home Parenting Anak Suka Meniru Temannya