Aku Orang Tua Pilih Kasih?

Mungkin sama dengan orang tua lain, tiba-tiba saya baru menyadari bahwa usaha cukup keras memang saya lakukan agar nggak tampak sebagai orang tua yang pilih kasih terhadap anaknya. Karena menurut pengalaman, jadi anak yang merasa paling disayang hampir sama nggak enaknya dengan menjadi anak yang merasa paling nggak disayang. Menjadi anak yang merasa nggak disayang sih pasti nggak enak banget karena akhirnya tumbuh dengan rasa nggak berharga, nggak percaya diri, nggak berguna, dan lain sebagainya. Menjadi anak yang paling disayang juga akhirnya menderita apalagi ketika kita tersadar saudara kita sendiri tumbuh dengan perasaan iri bahkan benci pada kita. Wah, bisa jadi drama seumur hidup deh pokoknya!

Mencintai anak yang lebih pintar, nurut dan tertib memang lebih mudah. Karena itu terkadang orang tua menampilkan sorot mata yang lebih berbinar-binar kepada anak model seperti itu dibanding anak lain yang sebaliknya. Baiknya kita cepat menyadari bahwa dibalik kekurangan anak-anak pasti terselip kelebihan, hanya kita saja sebagai orang tua yang musti lebih cerdas untuk melihat potensi anak. Anak yang terlihat sulit diatur memang terasa menyulitkan, sih. Tapi, anak yang nggak suka ikut aturan ini biasanya suka bikin aturan sendiri yang berpotensi menjadi seorang pemimpin. Apabila kita punya kemampuan untuk melihat potensi tiap anak yang memang punya karakter yang unik, ini bisa membantu kita untuk mencintai mereka dengan setara.

Anak-anak juga suka salah paham dengan konsep pilih kasih. Misalnya karena adik bayi sering digendong, sang kakak merasa iri dan merasa nggak disayang lagi sejak kehadiran adik. Orang tua perlu menjelaskan kepada anak-anak bahwa perbedaan perilaku itu bukan berarti perbedaan kasih sayang. Caranya bisa dengan melihat-lihat album foto agar si kakak tahu bahwa sewaktu kakak masih bayi juga digendong terus, sama seperti adik sekarang. Itu hanya karena adik belum bisa berjalan sehingga harus digendong, bukan karena bunda lebih sayang pada adik. 

Namun juga nggak perlu mengingkari apabila memang hati kita cenderung mudah lengket kepada satu anak dibandingkan dengan anak yang lain. Sebenarnya ini manusiawi, seperti kita yang rasanya klik banget kepada pasangan kita walaupun disekitar kita nyatanya bertebaran orang lain yang mungkin lebih menarik. Jadi nggak perlu merasa bersalah apabila hati kita sebenarnya condong pada satu anak dibanding yang lain. Hanya saja, kita perlu sadar diri sehingga bisa mengatur strategi agar semua anak tetap merasa disayang dan nggak ada yang merasa dirugikan. 

Karena itu ketika kita memuji salah satu anak, nggak perlu menyebut anak yang lain, misalnya “Adik pinter matematika ya nggak kayak kakak.”. Begitu juga ketika menegur salah satu anak, nggak perlu menyebut anak lainnya, “Kamu tuh nggak bisa diem deh! Kayak kakak tuh pinter!”. Hal ini bisa membuat anak merasa kurang disayang dibandingkan yang lain. Nah, mengatur jadwal kencan bergantian dengan pergi berdua saja dengan anak tanpa saudaranya yang lain bisa jadi salah satu strategi juga agar anak tetap merasa spesial. Tujuannya akhirnya adalah agar setiap anak merasa dirinya berharga.

You are here: Home Parenting Aku Orang Tua Pilih Kasih?