Kegiatan Ekstrakurikuler untuk Anak, Perlukah?

Sekolah sekarang memang agak berbeda dengan sekolah zaman dulu. Zaman saya SD, jam 12 siang sudah waktunya pulang sekolah, jadi setelah itu saya masih sempat main sepeda, pergi mengaji, les menari, les menyanyi dan melakukan banyak kegiatan lainnya. Belakangan ini, banyak oang tua yang mulai mempertanyakan apakah kegiatan ekstrakurikuler diluar jam sekolah memang diperlukan? Mengingat anak-anak baru sampai dirumah sekitar jam 3-5 sore, mereka hanya punya sedikit waktu untuk beristirahat dan mengerjakan PR. 

Perlu atau tidak anak-anak dilibatkan dalam kegiatan tambahan diluar sekolah sebenarnya kembali lagi tergantung kondisi anak. Apabila di sekolah anak sudah mendapatkan stimulasi lengkap dari segi logika, rasa, dan gerak, sebenarnya nggak masalah kalau anak tidak diikutsertakan pada kegiatan tambahan. Tapi kalau orang tua melihat bakat dan minat spesial anak, boleh saja anak dilibatkan pada kegiatan tambahan. Misalnya, anak sangat tertarik pada kegiatan bermusik, orang tua bisa mengajak anak untuk ikut les musik. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Pertama, sebaiknya kegiatan ekskul adalah kegiatan yang tidak diberikan di sekolah. Apabila di sekolah lebih banyak menstimulasi cara berpikir dan logika anak, kita bisa mengajak anak untuk ikut serta pada kegiatan berolahraga yang bisa memenuhi kebutuhan bergeraknya, atau kegiatan seni yang bisa memenuhi kebutuhan merasanya. 

Kedua, jangan lupa melihat kondisi kesehatan anak. Ada sebagian anak yang lebih mudah sakit apabila kurang waktu beristirahat. Sebaiknya prioritaskan kondisi kesehatan anak. Apabila kita ingin anak cukup istirahat, bisa juga kita carikan les privat yang bisa dilakukan dirumah. Sehingga Si Kecil bisa lebih banyak waktu untuk beristirahat dan nggak perlu menghabiskan waktu berlama-lama di jalan. 

Ketiga, jangan lupa untuk melibatkan anak dalam pemilihan ekskulnya. Jangan sampai keputusan ini diambil sebelah pihak. Kadang orang tua merasa menjadi orang yang paling tahu yang terbaik untuk anaknya, namun nggak baik juga memaksa anak melakukan kegiatan tambahan tanpa persetujuan sang anak. Ajak mereka bicara mengenai minatnya, dan apakah ia ingin memperdalam kegiatan yang menjadi minatnya tersebut. Jangan sampai orang tua memaksakan ambisi mereka terhadap anak dengan cara mengikutsertakan anak dalam kegiatan tambahan diluar kegiatan sekolah yang tak disetujui oleh sang anak. Harus selalu diingat bahwa kegiatan tambahan ini memerlukan ekstra waktu, ekstra energi dan ekstra kesabaran untuk anak. Memaksakan mereka untuk menjalaninya hanya akan menimbulkan konflik baru dalam keluarga. 

Keempat, setelah anak memutuskan untuk mengikuti kegiatan ekskul, buat perjanjian untuk menentukan berapa jangka waktu minimal anak boleh berpikir untuk berhenti atau melanjutkan kegiatan tersebut. Karena anak-anak masih dalam usia yang suka bereksplorasi, mereka memang cepat dilanda kebosanan. Biasanya sebelum memulai kegiatan tambahan, saya dan anak-anak membuat perjanjian agar anak-anak bersedia menjalani kegiatan tersebut minimal 1 atau 2 tahun. Dengan harapan anak sudah mulai menguasai kegiatan tersebut sebelum akhirnya membuat keputusan untuk lanjut atau mau mencoba kegiatan lain. 

Jadi apabila pertanyaannya: Sebaiknya anak saya ikut les tambahan nggak ya? Hanya kita, orang tuanya, yang bisa menjawab.

You are here: Home Parenting Kegiatan Ekstrakurikuler untuk Anak, Perlukah?