Pola Asuh, Menantu Vs Mertua

Pasti banyak yang setuju deh kalau saya bilang: dalam sebuah pernikahan, salah satu cobaan terbesar adalah menjalin hubungan baik dengan mertua. Hehehe. Salah paham, perbedaan pendapat, sampai perbedaan pola asuh kerap kali ditemui dalam konflik hubungan mertua vs menantu. Mungkin yang terakhir saya sebutkan bisa dibilang memiliki catatan khusus untuk hampir semua keluarga. Kalimat yang paling sering saya dengar dari curhatan orang tua adalah, “Udah capek-capek anak diajarin disiplin setiap hari, begitu mertua dateng, hancuuuuur deh semuanya dalam sehari!!”. Hahaha! Siapa yang pernah curhat begitu juga?

Nah, walaupun persoalan mertua vs menantu ini termasuk problematika yang cukup memberatkan hati, tapi banyak sekali dari kita yang nggak berani berusaha untuk memperbaikinya. Kebanyakan dari kita memilih untuk diam dan semakin hari semakin menyimpan rasa kesal pada mertua. Hmmm, sebenarnya ini bukan solusi sama sekali. Justru, dengan cara seperti ini berarti kita memilih untuk melarikan diri sejenak dari masalah dengan risiko masalah yang sama akan terus berulang sepanjang hidup kita. Nah lho! Terus gimana, dong?

Hal yang perlu dilakukan adalah mengutarakan isi hati kita kepada sang mertua. Terkadang, kita berharap mereka mengerti apa yang kita mau tanpa kita mengungkapkannya pada mereka. Kabar buruknya, mertua kita kemungkinan bukan cenayang yang bisa mengerti apa yang ada dalam pikiran kita. Mereka mungkin nggak akan mengerti harapan kita kalau kita nggak berani untuk  mulai menyampaikannya terlebih dahulu. Jadi, kita cari waktu yang baik untuk bisa mengungkapkan isi hati kita pada mertua, tentunya dengan bahasa yang lembut dan enak didengar. Kita perlu berpikiran positif bahwa apapun yang mertua kita lakukan pada cucu-cucunya pasti datang dari niatan yang baik. Namun, mungkincaranya saja yang kurang cocok dengan pola asuh yang kita terapkan selama ini. Tapi sebelumnya, ada tipsnya nih: jangan berharap mereka menyetujui pendapat kita pada saat itu yaaa... 

Yup, bersiaplah pada reaksi terburuk. Berikan senyum terbaik kita kalau saja reaksi mertua tidak seperti yang kita harapkan. Dengan cara ini, kita bisa berharap mereka mau berpikir kembali lain waktu untuk mulai bisa bekerjasama dengan baik mengasuh dan mendidik cucu-cucunya. Tapi, kalau cara tersebut sulit untuk kita lakukan, sampaikan hal ini lewat suami kita. Namun, cara penyampaian jadi satu hal yang sangat penting. Jangan sampai suami merasa dalam keadaan terjepit antara pasangan dan orang tuanya sendiri. Kasian lho…

Buat saya, rumah adalah SEKOLAH utama anak-anak dimana anak-anak belajar disiplin, bertanggung jawab, mandiri, juga peduli. Setiap hari saya terapkan pola yang konsisten kepada anak-anak dirumah. Namun apabila saya kedatangan ibu atau bapak mertua, SEKOLAHnya libur! Karena saya tahu pola asuh yang saya terapkan bisa jadi nggak konsisten saat nenek dan kakek sedang bertamu. Nggak papa juga kan sekolahnya sekali-kali libur, hehehe. Jadi, saat nenek dan kakek ada dirumah, peraturan yang berlaku adalah aturan nenek dan kakek. Jangan khawatir, ketika nenek dan kakek sudah pulang, anak-anak akan dengan cepat kembali beradaptasi dengan aturan yang kita terapkan sehari-hari. 

Sebenarnya, kita ini juga termasuk anak-anak, yaitu mahluk yang cepat beradaptasi dengan aturan yang ada. Contoh kecilnya saja adalah cara kita duduk di rumah yang pasti akan berbeda dengan cara kita duduk di kantor. Ketika sampai kantor, otomatis kita langsung beradaptasi dengan aturan yang ada di sana. Begitu juga dengan anak-anak, perilaku di rumah bisa jadi berbeda dengan perilakunya di sekolah. Jadi, aturan orang tua dengan aturan kakek nenek yang berbeda, nggak ada yang perlu dikhawatirkan, kan?

Nggak mudah memang. Tapi hubungan baik kita dengan mertua adalah satu hal yang layak diperjuangkan. Setuju?

You are here: Home Parenting Pola Asuh, Menantu Vs Mertua