Bijak Melihat Rapor Anak

Wah, nggak kerasa udah masuk akhir tahun ajaran, nih. Setelah satu tahun bergelut dengan PR dan berbagai macam jenis ujian sekolah, akhirnya tiba juga saatnya melihat hasil belajar anak-anak di rapornya.  Dan, tiba-tiba jadi teringat masa kecil dulu. Dimana saat-saat begini jadi momen paling mendebarkan buat saya dan teman-teman. Apalagi, teman-teman yang nilainya pas-pasan. Apabila hasil belajarnya tidak memuaskan orang tua, maka rotan, sapu lidi dan ikat pinggang, juga kata-kata makian siap menanti di rumah. Dulu, rumah tempat saya tinggal waktu kecil adalah kawasan padat penduduk, sehingga makian tetangga sebelah kepada anaknya tak jarang terdengar dari kamar saya.

Pernah juga saya mendengar curhatan seorang teman yang harus tinggal bersama tante dan neneknya, karena orang tuanya harus bekerja di luar negeri sebagai TKI demi mencari uang agar si anak bisa bersekolah dengan baik. Jadi, hamper semua anggota keluarganya menekan agar selalu mendapat nilai-nilai teratas karena tak mudah bagi orang tuanya berjuang mencari nafkah agar ia bisa sekolah. Keluarga memberikan target nilai minimal harian adalah 9. Maka jika nilainya cuma 8, sampai rumah ia akan habis dipukuli oleh tante atau neneknya. Memori masa kecil seharusnya menjadi kenangan yang indah, namun tidak untuk teman saya yang satu itu.

Parents, sadarkah kita bahwa nilai rapot bukanlah hasil akhir. Nilai rapor yang baik bahkan bukan tujuan utama dari pendidikan itu sendiri. Terkadang, kita orang tua perlu menyediakan waktu untuk berpikir, kemana sebenarnya kita ingin menuntun anak-anak? Sebenarnya kita ingin anak kita jadi apa sih? Terkadang kita ingin anak selalu sempurna setiap saat. Nilainya bagus terus, tidak rewel, hormat pada orang tua, nggak berkonflik dengan temannya, dan rajin membantu. Ya, memang sih ini impian semua orang tua. Namun,  selama anak kita masih manusia, mungkin nggak sih harapan kita punya anak yang sempurna bisa terwujud? Atau, jangan-jangan kita telah memberikan target yang mustahil untuk mereka? Target yang mustahil ini memiliki tingkat kegagalan yang sangat tinggi, lho! Dan ini berpotensi membuat orang tua dan anak sama-sama frustasi karena kesulitan menggapai target tersebut.

Jadi, apabila kita merasa khawatir dengan pencapaian buah hati kita di sekolah, lebih baik diskusikan dengan gurunya solusi apa yang bisa dilakukan orang tua agar bisa bekerjasama dengan sekolah untuk mencapai hasil yang lebih baik kedepannya. Tapi, kita juga perlu tahu bahwa rapor sesungguhnya tidak bisa menggambarkan seluruh potensi anak. Masih banyak potensi anak yang mungkin tidak bisa kita kita ketahui dari sekedar membaca rapor sekolahnya. Pernah dengan multiple intelligences? Aspek kecerdasan majemuk seperti ini seringkali tak terhitung oleh angka ataupun huruf di rapor sekolah.

Yuk, kita mulai bijak menanggapi perkembangan anak-anak kita. Sudah saatnya kita menyadari bahwa kegagalan ataupun kekurangan dari anak-anak adalah proses belajar itu sendiri. Mereka mungkin terlihat santai saja dalam menjalani proses belajarnya, tapi begitulah cara mereka belajar. Kita yang harus memelihara agar proses belajar tetap menjadi menyenangkan untuk anak, agar mereka mencintai proses belajar itu sendiri. Kenapa anak harus mencintai proses belajar? Ya, karena kita akan terus belajar selama kita hidup, kan? Kalau anak benci proses belajar, maka ia akan benci hidupnya sendiri.

You are here: Home Parenting Bijak Melihat Rapor Anak