Anakku Suka Membantah

Jadi orang tua itu memang kelas kehidupan yang maha dahsyat. Apalagi, kalau anak mulai masuk pada fase: suka membantah. Diomongin pelan-pelan, macam masuk kuping kiri, keluar kuping kanan. Lama-lama emosi juga kan jadinya? Begitu emosi sudah nggak tertahankan dan oktaf mulai meninggi, eeeeh galakan dia. Keseeeeeel deh jadinya. Kalau situasinya begini terus, rasa kesalpun berubah menjadi stress!!!

Eits, jangan stress dulu, Parents! Ada kabar gembira niiiih! Ternyata, membantah itu adalah bagian penting dari proses kedewasaan mental anak. Justru, pada proses ini musti kita dampingi agar bisa berkembang menjadi hal positif. Tau nggak sih kenapa Si Kecil yang tadinya penurut terus berubah jadi ngeyel? Ini tandanya anak sudah tau apa yang ia mau dan berusaha mewujudkannya. Selain itu, anak juga mulai punya kemampuan untuk mengungkapkann pendapatnya sendiri walaupun ia tahu bahwa ini beresiko membuat orang lain kesal. Kalau kita mau membuka diri untuk berpikir, ini pertanda bahwa anak kita adalah ciri pemimpin masa depan, lho! Anak yang tau apa yang dimau dan berani mengungkapkan pendapatnya adalah anak-anak yang berani mengambil keputusannya sendiri. Setuju?

Yah, namanya juga anak-anak yang masih dalam proses belajar, tentu cara-cara yang digunakan masih primitif dan belum sempurna, karena itulah terlihat ngeyel dan seringkali membuat orang lain jadi kesal. Nah, justru disini peran orang tua, nih. Mendampingi Si Kecil sehingga nantinya ia bisa mengungkapkan keinginannya dengan cara-cara elegan dan sanggup bersepakat dengan orang lain agar keinginannya nggak berbenturan dengan kepentingan orang lain. Ini memang bukan proses yang cepat dan mudah. Butuh kesabaran ekstra dan konsistensi yang luar biasa dari kita sebagai orang tua untuk sukses mendampingi anak menjadi generasi super! Yah, namanya juga mendampingi generasi super, usahanya juga musti super, kan? Hehehe… 

Mulai saja dari hal kecil. Misalnya redam rasa kesal kita atas ngeyelnya, berikan kesempatan mereka untuk berbicara dan berikan waktu untuk mendengarkan pedapatnya terlebih dahulu. Jangan memberikan perintah pada Si Kecil, berikan pilihan-pilihan agar ia bisa memilih sendiri. MIsalnya: Mau kerjakan PR sekarang dan ikut bunda ke mall, atau mau kerjakan PR nanti tapi nggak bisa ikut bunda ke mall? Jalin komunikasi yang baik, dan turunkan nada bicara kita agar ia meniru cara kita dalam berkomunikasi.

Nah, setiap memulai tahun ajaran baru seperti sekarang, biasanya salah satu pesan yang saya sampaikan pada wali kelas anak-anak adalah: harap bersabar pada anak-anak saya yang mungkin dengan lantang akan menentang pendapat guru di kelas apabila tidak sependapat dengannya, karena di rumah kami terbiasa mendengarkan pendapat-pendapatnya. Untungnya, saya mendapat sambutan positif dari wali kelas Mima, anak pertama saya yang sekarang berusia 14 tahun. Berkat sifat “ngeyel”-nya, kini mima menjabat sebagai wakil ketua OSIS karena dianggap berani bicara mengungkapkan pendapatnya. Akhirnya, saya dan guru di sekolah sepakat untuk mendampingi Mima agar memiliki strategi yang lebih baik dalam mengungkapkan pendapatnya. 

So, let’s think smart, Parents!

You are here: Home Parenting Anakku Suka Membantah