Berkomunikasi Dengan Anak Remaja

Punya anak balita memang seru. Setiap hari menghadapi bejibun pertanyaan dari si gemes yang lagi bawel-bawelnya. Mulai dari pertanyaan tentang benda-benda di sekitar, sampai dengan pertanyaan-pertanyaan ajaib yang tiba-tiba aja terlintas di kepalanya. Si balita juga dengan senang hati akan menceritakan seluruh kegiatannya seharian tanpa diminta ketika bertemu dengan ayah dan bundanya.

Tapi saking bawelnya, kadang-kadang capek juga sih ya mendengarkan Si Kecil bercerita. Bahkan, nggak jarang disaat Si Kecil asik bercerita, kita nggak dengerin karena malah mikirin urusan lain, hehehe.

Tapi tau nggak sih Parents, ternyata harusnya kita bersyukur kalau anak-anak masih mau asik bercerita kepada kita. Karena saat memasuki usia remaja, ternyata semakin sedikit cerita seru yang dia ceritakan kepada orang tuanya. Apalagi kalau kita malas mendengarkan cerita-ceritanya ketika ia sedang senang bercerita diwaktu kecil. Wah, bisa-bisa ketika remaja ia malah ogah curhat sama orang tuanya. Waktu balita, Si Kecil bisa cerita panjang lebar kalau kita tanya: ngapain aja tadi di sekolah? Tapi pas anak sudah remaja dan kita tanya pertanyaan yang sama, paling dijawab: ya gitu deh! Atau: gitu-gitu aja. Hehehe. Nggak jarang juga maksud hati ayah bunda cuma mau memulai pembicaraan, malah jadi konflik gara-gara si remaja malah jawab: "bawel banget sih tanya-tanya melulu! Aku capek tau!!!”

Huffft! Katanya kita musti sabar kalau punya balita, ternyata saat punya anak yang sudah beranjak remaja, kita musti SUPER SABAR! Remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Si Kecil kita yang udah nggak kecil lagi sedang berproses menjadi mandiri. So, mereka nggak suka kalau kita terus-terusan ikut campur di kehidupannya. Makanya, kalau mau ngobrol dengan si remaja, kita musti punya teknik khusus. Jangan sampai pertanyaan-pertanyaan kita berkesan mencampuri kehidupannya. 

Nah, sekarang jadi masuk akal kan kenapa remaja nggak suka banget dinasehatin? Karena orang dewasa yang suka ikut campur di kehidupannya dengan menasehati itu nggak asik banget buat si remaja. Mulai sekarang, hindari deh menasehati si remaja, apalagi menginterogasi. Kalau kita merasa perlu menyampaikan pesan-pesan kepada mereka, ceritakanlah tentang pengalaman pribadi yang pernah dialami orang tua. Supaya kesannya orang tua sedang curhat, bukan mau mencampuri kehidupan si remaja. 

Saat anak sudah mulai beranjak remaja, mengatur-aturnya dengan cara memerintahnya melakukan yang kita mau juga ternyata nyebelin banget buat mereka. "Matiin hp-nya sekarang! Kerjain dong PR-nya, jangan nonton tv terus!”. Nah, perintah-perintah kayak gini bisa bikin perang nih dirumah, hihihi. Memang tampak seperti ‘semau gue’ sih, tapi anak remaja yang mulai berproses menjadi manusia yang mandiri, cenderung ingin punya aturan sendiri. Dulu memang kita leader-nya, walaupun rasanya nyebelin tapi orang tua mustinya men-support kan saat anaknya mulai berproses menjadi leader di kehidupannya sendiri. Kalau dulu suka atur-atur,  untuk kenyamanan bersama, berarti caranya musti kita ganti nih. 

Karena atur-atur sudah nggak efektif lagi untuk remaja, tapi kan kita juga ingin si remaja menjalankan kewajibannya. Kita bisa memberikan pilihan, supaya ia bisa mengambil keputusan sendiri. Misalnya, “ jadi kerjain tugasnya mau sekarang aja atau habis maghrib kak?”. Atau bisa juga membuat kesepakatan bersama tentang aturan-aturan yang mau diterapkan dirumah. Dengan belajar bersepakat, si remaja juga bisa berproses untuk menyadari bahwa ia selalu hidup berdampingan dengan orang lain. Sehingga suatu hari akan tersadar bahwa ia harus mengambil jalan tengah supaya kepentingannya nggak berbenturan dengan kepentingan orang lain. Apapun caranya, yang penting si remaja merasa bahwa segala keputusan adalah keputusannya sendiri. 

Memang nggak gampang sih. Dalam prosesnya bahkan seringkali membuat hati kita terluka. Tapi kita musti ingat, bahwa sesungguhnya kita sedang mempersiapkan mereka untuk terbang tinggi meraih mimpi-mimpinya. Good luck, Parents!

You are here: Home Parenting Berkomunikasi Dengan Anak Remaja