Zaman Narsis

Semenjak sosial media hadir, tugas kita sebagai mahluk sosial seolah bertambah. Narsis sepertinya menjadi salah satu menu teratas dan seringkali menjadi prioritas dalam kegiatan sehari-hari. Kebutuhan narsis membuat kita semakin sibuk. Sibuk memilih pakaian, makanan, restoran, dan kegiatan yang indah dilihat lewat postingan-postingan kita di media sosial. 

Bahkan, didorong oleh kebutuhan sebagai netizen, orang tua menuntut anak untuk berprestasi di berbagai bidang, dan juga fotogenik agar media sosial orang tua menjadi kaya konten. Nggak jarang dari sana muncul berbagai persaingan dan perdebatan, adu kuat dan juga adu keren antara netizen satu dengan lainnya. Melihat fenomena ini, rasanya kita perlu berhenti sebentar untuk mulai menyadari, seberapa jauh kita menyeret orang-orang yang kita sayangi untuk memenuhi kebutuhan narsis kita? 

Media sosial juga kadang membuat orang tua membandingkan anaknya dengan anak-anak lucu yang seliweran di media sosial yang punya bakat luar biasa. Rasanya ingin Si Kecil juga punya bakat dahsyat seperti anak-anak lainnya di media sosial. Dampak buruknya, kita jadi merasa anak kita kurang pintar, dan kurang berbakat dibanding anak-anak tersebut. Padahal tiap anak punya karakter, kelebihan, kekurangan, bakat dan minat yang unik dan berbeda dengan anak lainnya. Membandingkan Si Kecil dengan anak lain hanya akan membuatnya kecil hati dan merasa tidak percaya diri. Bahkan paksaan untuk memenuhi tuntutan yang tinggi dari orang tua bisa membuat anak frustasi dan merusak hubungan manis anak dengan orang tuanya.

Sebagai netizen, likers, comments, dan follower jadi ukuran kesuksesan. Hati-hati, karena tanpa sadar Si Kecil melihat dan mencontoh kita. Jangan sampai popularitas jadi tujuan hidupnya. Karena belakangan, inilah fenomena yang terjadi pada remaja yang eksis di media sosial. Rela menabrak norma demi banyaknya followers dan likers di media sosialnya. 

Kalau anak bertanya, “Kenapa ayah dan bunda kerja setiap hari?”. Biasanya kita jawab, “Kan cari uang biar uangnya banyak buat bayar sekolah adik, beli mainan, supaya kita bisa liburan terus.”. Ini bukan jawaban yang salah, ini jawaban yang paling cepat terlintas dikepala karena memang itu kenyataannya. Namun jangan sampai jumlah uang di rekening juga menjadi simbol kesuksesan bagi anak kita ketika ia dewasa. Jangan lupa juga untuk bercerita kepada Si Kecil bagaimana bahagianya hati kita ketika menolong seorang teman yang membutuhkan bantuan. Ceritakan juga senangnya kita ketika ikut membantu seorang nenek yang tersesat di jalan. Atau ademnya hati mendengar ucapan terima kasih dari seorang kawan yang terbantu dengan penggalangan dana lewat media sosial untuk membantu anaknya yang sakit. Agar anak kita juga berpikir bahwa salah satu simbol kesuksesan sebagai manusia adalah bermanfaat bagi manusia lain. 

Yuk kita mulai ajak anak kita berdiskusi tentang hal-hal kecil yang bisa kita syukuri setiap hari. Badan yang sehat, melihat orang yang kita sayangi tersenyum, dimasakin sayur kesukaan sama mbak dirumah juga pantas kita syukuri setiap hari. Agar kita semakin sadar bahwa hidup kita indah dijalani, walau mungkin nggak selalu indah untuk diposting.

You are here: Home Parenting Zaman Narsis