Deg-Degan Dipanggil Guru

Beberapa minggu yang lalu, salah satu dari tiga anak saya dipanggil guru karena ulahnya di sekolah. Duh, deg-degan banget rasanya memang ya saat Si Kecil berkonflik dengan temannya di sekolah. Anak dan konflik memang tak dapat dihindari, sebaik apapun kita membesarkan anak kita. Justru dalam konflik itulah sebenarnya anak belajar berinteraksi dengan sesama. Belajar melihat sebab-akibat yang terjadi atas perilakunya. Jadi walau deg-degan, saya berusaha tetap rasional agar kejadian seperti ini bisa kami pergunakan sebagai situasi belajar bersama. 

Nah, supaya tetap rasional, kita sebagai orang tua memang perlu menyadari bahwa anak sedang berada dalam tahap belajar beradaptasi dan bersosialisasi dengan lingkungannya. Jadi, wajar saja jika ia melakukan berbagai kesalahan dalam proses belajarnya. Jika terjadi hal seperti ini, menyalahkan sekolah, menghakimi anak, atau menganggap guru lalai dalam menjaga anak-anak justru menambah rumit persoalan. Seringkali orang tua menganggap bahwa sekolah adalah lingkungan paling aman untuk anak-anak, sehingga jika terjadi konflik maka ini adalah kegagalan pihak sekolah. Tapi, sesungguhnya orang tua juga perlu menyadari bahwa sekolah bukan bengkel. Dimana kita tinggal terima beres saat kita merasa anak kita “mengalami kerusakan”, maka sekolah akan “memperbaikinya”. Justru, baiknya orang tua dan sekolah saling bekerja sama dalam mengasuh dan mendidik anak-anak.

Jangan cepat terpancing emosi hanya dari mendengar cerita versi anak kita saja. Justru ketika berdialog secara sehat dengan guru, kita bisa melihat cerita dari sudut pandang yang berbeda dan memiliki kesempatan untuk mengenal anak kita lebih dalam lagi. Dari sini juga kita bisa berkonsultasi dengan guru untuk membicarakan solusi yang bisa dilakukan untuk membimbing Si Kecil disekolah dan di rumah. Sebagai solusinya, saat itu sih guru sekolah langsung memberikan ide untuk merencanakan play date antara anak saya dengan teman kelas yang berkonflik dengannya. Syukurlah, karena ternyata idenya cukup mujarab. Masalah selesai tanpa ada drama berkelanjutan. 

Masalah ini juga nggak saya bicarakan berlarut-larut dengan nasihat yang panjang lebar di rumah. Apabila bisa diselesaikan di sekolah saja, saya memilih untuk nggak membawa masalahnya ke rumah. Hal ini saya lakukan agar Si Kecil nggak merasa diintimidasi dan menanggung rasa bersalah yang berlebihan. Karena, kalau ia terus menerus dihantui perasaan negatif akibat perilakunya di sekolah, justru bisa membuatnya jadi mogok sekolah. Yang penting kita tahu dengan jelas kegalauan apa yang sedang terjadi pada anak kita, agar kita tau pesan moral apa yang bisa kita sampaikan disaat hatinya sedang nyaman. Misalnya, disaat sedang bermain bersama, membacakan dongeng sebelum tidur, atau berbincang-bincang santai di meja makan. 

Anak pasti akan terus berhadapan dengan berbagai macam permasalahan dan juga terus melakukan kesalahan. Ini bukan salah anak, bukan juga salah orangtua. Ini bukan salah siapa-siapa. Ini hanya bagian dari proses belajarnya menuju mahluk yang dewasa dan bijaksana.  Kita sebagai orang dewasa yang ada di sekeliling anak diharapkan NGGAK PERNAH BOSAN merangkul anak-anak dengan segala pola dan tingkah lakunya. Lebih baik melihat situasi ini sebagai momen emas untuk belajar bersama anak untuk kelak ia dapat menaklukan dunia

You are here: Home Parenting Deg-Degan Dipanggil Guru