Anak dan Media Sosial

Sekitar tujuh tahun yang lalu, itu adalah pertama kali saya membuatkan akun media sosial untuk anak saya. Saat itu, Facebook sedang lucu-lucunya. Masa-masa berkirim stiker lucu dan pesan singkat yang menggemaskan. Nggak ada berita hoax, ujaran kebencian, gambar, bahkan video yang mengerikan seperti sekarang. Jadi, walaupun facebook sudah menentukan 13 adalah minimal usia dalam menggunakan Facebook, saya merasa aman-aman aja membuatkan akun media sosial untuk Mima yang saat itu masih berusia 7 atau 8 tahun. Disaat media sosial sudah seperti sekarang ini, saya betul-betul menyesali langkah ceroboh yang pernah saya lakukan dulu.

Nggak nyangka kalau ternyata lewat media sosial anak-anak bisa bertemu teman via internet yang usianya tak terbatas. Bisa melihat gambar atau video yang nggak pantas,  membaca berbagai informasi yang belum pasti kebenarannya, dan yang paling parah ternyata orang lain bisa dengan mudah mengakses informasi pribadi tentang anak-anak kita. Dengan mudah orang-orang yang niatnya belum tentu baik, bisa tau apa makanan atau minuman kesukaan anak-anak kita, warna kesukaannya, lagu favoritnya, di mana alamat rumahnya, di mana sekolahnya, dan masih banyak hal lainnya. Belum lagi banyak kejahatan baru yang tidak terpikirkan sebelumnya terjadi lewat dunia maya. 

Sebenarnya Mima sudah memegang handphone sendiri sejak kelas 6 SD, dengan pertimbangan agar mudah dihubungi mengingat kesibukannya yang semakin bertambah. Tapi, setahun lalu dengan berat hati keputusan itu kami revisi. Melihat perkembangan dunia online yang semakin mendebarkan, kami mengurangi porsi penggunaan internet untuk anak-anak. Buat saya internet adalah kekuatan super. Seperti di film-film, kekuatan super bisa bermanfaat apabila ada di tangan orang yang bijaksana dan bisa bersifat sebaliknya pula. Dalam prosesnya menuju dewasa, anak kita betul-betul perlu bimbingan dan pemantauan khusus dalam menggunakan internet. 

Jadi, walaupun Mima masih bisa mengakses media sosial, tapi ia mengaksesnya lewat handphone Bunda, agar penggunaannya lebih terkontrol. Eksis boleh, tapi tidak memberikan informasi pribadi yang bisa disalahgunakan oleh pihak yang tak bertanggung jawab. Semua postingan adalah late post, agar orang lain nggak tau saat itu Mima sedang berada di mana. Sebagai orangtua kita juga harus mengerti bahwa anak pada usia remaja mulai merasa ingin dianggap penting, karena itu kebutuhan untuk eksis adalah kebutuhan primer untuk anak usia remaja. Untuk memfasilitasi hal itu, akhirnya saya memberi syarat, selain menggunakan media sosial untuk eksis, harus bisa bermanfaat juga untuk orang banyak. Sekarang nggak jarang Mima memberikan motivasi-motivasi untuk anak remaja lain lewat media sosialnya. 

Melihat feedback dari teman-temannya, Mima merasa lebih bahagia ketika memberikan inspirasi lewat media sosial daripada hanya sekedar eksis. Semoga dengan begitu anak-anak semakin sadar bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain. Bijaklah menggunakan kecanggihan teknologi untuk membuat lebih banyak orang tersenyum mensyukuri hidup apa adanya.

You are here: Home Parenting Anak dan Media Sosial