parenting

Deg-degan Saat Anak Ujian

M

usim UAS nih… Ujian Akhir Semester. Biasanya sih, saat musim ujian kayak gini, bukan anak-anak yang mau ujian aja yang deg-degan. Para orangtua, terutama ibu-ibu sih, jantungnya ikutan melorot sampe ke lutut, hihihi… Sayapun pernah mengalami pengalaman kayak begini, makanya jadi tau. Cuman sekarang udah insaf, hahahahaaaa….

Yup! Saya udah insaf ngerecokin hal-hal yang sesungguhnya adalah urusan privat anak. Termasuk soal sekolah, dalam hal ini PR, ujian, juga urusan si anak yang berantem dengan teman sekolahnya. Bukannya cuek dan gak mau tau, tapi sudah saatnya anak-anak belajar dewasa, belajar bertanggung jawab dengan urusannya sendiri. Bukankah itu yang diinginkan orang tua? Punya anak yang sanggup bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Yang sanggup menyelesaikan urusannya, termasuk kesulitan yang hadir pada hidupnya. Gimana anak mau mulai untuk belajar bertanggung jawab kalau kita, orangtuanya, tanpa diminta, selalu menyelesaikan segala urusan anak, tanpa memberikan kesempatan anak untuk jatuh-bangun menyelesaikan urusannya sendiri? 

Read more: Deg-degan Saat Anak Ujian

Melatih anak belajar menunggu

Serunya diskusi dimilis ParenThink tentang mengajak anak untuk belajar menunggu. Menunggu itu, ya menunggu aja, doing nothing, nggak ngapa-ngapain, nggak sambil nyambi, fokus hanya pada yang ditunggu. Wah, kalau dipikir-pikir, sehari-hari aja, saya sebagai orang tua sepertinya belum pernah belajar menunggu yang seperti ini. Pasti kalau lagi nunggu, misalnya antri di bank atau macet dijalan, ya sambil main game, urus kerjaan, twitteran, ngobrol, atau apa ajalah… Membunuh waktu biar nggak bosen nunggu. Trus, apa ya manfaat dari belajar menunggu yang doing nothing, hanya menunggu?

Nyambi untuk manfaatin waktu = produktif. Nyambi utk mengisi waktu = konsumtif. Sesuatu yang dilakukan saat menunggu itu, kalau nggak dilakuin sambil menunggu pun nggak akan jd masalah, ya berarti aktivitas sambil nunggu itu = konsumtif. Soalnya itu cuma karena kita nggak bersahabat sama diri sendiri. Sehingga kita jadi kesepian saat nggak ada interaksi dengan yang di luar diri. Padahal saat itu energi kita diperluin oleh hal yg lagi ditunggu. Kan nggak semua keadaan menunggu bisa dilakukan sambil nyambi.

Read more: Melatih anak belajar menunggu

Kok anakku susah makan?

S

etelah bertahun-tahun lumayan ngesot sama Raka yang susah makan, akhirnya dibahaslah seputar anak susah makan di milis ParenThink. Aaaaaah senangnya! Lumayan buat tambah-tambah ilmu. Secara Raka masih aja suka kumat aksi 'ogah makan'nya…

Sering dienaar dari para pakar parenting " Pernah nggak anak diajarin untuk kenal rasa laper? Kalo nggak, ya harap maklum kalau makan jadi sesuatu yang nggak enak bagi anak"… Sampe sini, hati saya bersorak gembira, tandanya apa yang pernah saya terapkan untuk Raka benar adanya. Sempet sedih juga liat komen di twitter yang bilang saya ibu tega karena udah biarin anaknya kelaperan, hiks. Tapiiiiiii, kalau anak terus-terusan dipaksa makan dalam keadaan kenyang, gimana caranya anak jadi ngerasa butuh makan? Gimana caranya bikin anak ngerasa makan jadi sesuatu yang enak bagi tubuhnya? Belum lagi pas acara makan pake diomelin, tambahlah acara makan tersebut jadi saat-saat yang paling mengerikan untuk anak. Cobain deh ayah-bunda makan dengan cara kayak gini, hiiiiiii sereeeeeem!!!! Kalo pas lagi kenyang, ditraktir direstoran super enak dan super mahal-pun kan rasanya jadi nggak enaaaaaaaak!!! :s

Read more: Kok anakku susah makan?

Agar sepakat dengan anak.

M

asih ingat cerita Raka yang susah makan? Pernah juga suatu hari, Raka akhirnya mau makan, dgn syarat dr dia, bahwa dia mau masak sendiri makanannya... Saat buat kesepakatan, saya bilang, kalo udah dimasak makanannya harus dimakan. Setelah telor selesai digoreng raka bilang, "Nanti aku makan telornya kalo udh malem aja…"... Dhuaaaaar!! Saya kaget luar biasa!!

  Teringat saya akan searing psikolog anak yang pernah bilang, “ Kalo mau buat kesepakatan dengan anak, harus SMART!”. 

Read more: Agar sepakat dengan anak.

You are here: Home Parenting