Tips Trik Makan Sehat ala Nandra Janniata

Senangnyaa jadi tamu di web ini :) *sruput teh yg disuguhin Mona dulu* jadi ceritanya diajak nulis soal mpasi nih, pengen share aja sebagai Ibu dari 2 anak yg cukup concern soal asupan utk anak. *Disclaimer, segala yg berkaitan dengan angka pada tulisan ini bukan patokan keharusan ya, kembali lagi pada masing-masing anak & lingkungannya :)*

Seiring perkembangan zaman otomatis ilmu terus berkembang, panduan WHO pun ikut mengubah kebijakan-kebijakan di dalamnya, MPASI sekarang lebih asyik loh dari MPASI 3 tahun lalu, jadi penerapan anak pertama saya beda dengan anak kedua sekarang ini. Kalau sekarang, hampir semua jenis bahan makanan boleh dicobain di masa-masa awal belajar, seperti daging merah (daging sapi/kambing) bisa dikenalkan di usia 6,5 bulan, ini dikarenakan imbauan soal pecegahan defisiensi zat besi yg marak terjadi belakangan. Di awal MPASI nggak perlu terpatok mau mulai buah/sayur/serelia dulu, semuanya baik, yg perlu diingat adalah makanan yang diberikan harus bisa menutupi kekurangan kalori yg dibutuhkan anak, jd jangan melulu kasih puree sayur/buah yg notabene hampir tdk ada kalorinya, jadi mirip orang diet deh kalo cuma makan itu aja, nanti ke dokter terus timbangannya nggak naik, malah panik :D.

Hitungan dasarnya untuk anak usia 6-9 bulan memerlukan 600 kalori yang didapat dari ASI sebanyak 425 kalori + MPASI 200 kalori. Terlihat kan perbandingannya, makanan masih mendampingi pemberian ASI. Gimana sih cara ngitungnya 600 kalori di ASI? Jadi, di dalam 100ml ASI terdapat 70 kalori, ini hitungan yang terdapat pada Ibu menyusui yang mempunyai gizi cukup (kalau Ibu gizi lebih atau kurang beda lagi) tapi tetap nggak perlu terlalu diukur secara matematika banget ya, berikan ASI pada porsinya (anak usia >6 bulan sudah bukan sesuai keinginan bayi lagi) karena bayi sudah mulai belajar makan & belajar mengenal rasa lapar, berikan ASI di luar jam makannya, pada handout terbitan UNICEF, Ibu boleh memberikan sedikit ASI sebelum anak mulai makan untuk mengurangi rasa lapar yang berlebih. Jangan lupa juga dengan aturan pemberian 1 bahan makanan untuk 4 hari, kok 4 hari? Nggak 3 aja? (Ibu-ibu senangnya diskonan :p) aturan ini untuk menghindari risiko alergi, walaupun biasanya efek alergi muncul 4-5 jam setelah makan, dan lagi normalnya BAB pada anak adalah 1-3 hari, jika di luar jangka waktu tersebut tidak BAB, Ibu bisa stop bahan makanan sebelumnya & menggantinya dengan pencahar alami (pisang, pear, alpukat, peach) berikan air putih yang cukup, pijat perut searah jarum jam, & ajak anak untuk bergerak.  Kemudian tunggu reaksi sampai 5-7 hari, jika belum ada reaksi BAB, ada baiknya
konsultasikan dengan dokter.

Setelah membaca di atas, jadi pemberian air putih penting kan? Sangat penting bu, seberapa banyak sih kebutuhannya saat anak sudah mpasi? Nah, pemberian air putih memang tidak dianjurkan banyak, karena bisa mengganggu intensitas menyusui anak, tapi juga jangan hanya sebagai pembasuh mulut setelah makan saja ya. Pemberian air putih utk anak sudah mulai mpasi itu, 30 x berat badan bayi, kalau anak minum ASI, bisa ½ dari jumlah seharusnya, tapi untuk anak yang mengonsumsi sufor jumlahnya sesuai dengan hasil perkalian tadi, krn air putih perlu utk mengeluarkan kelebihan konsentrasi mineral yg ada pd sufor.

Terus gimana nih kalau nanti MPASI, anak jadi GTM bin mingkem maksimal? Nah ini sedikit tricky menyiasatinya. Pada dasarnya perkembangan indera pengecap bayi sesuai usia pertumbuhannya, semakin besar anak, semakin banyak rasa yang diinginkan. Yang ini saya share pengalaman pribadi. Saat usia 6-9 bulan, anak saya diberikan makanan minim bumbu, bahkan pada campuran kaldu yang dibuat, usahakan anak mencicipi rasa asli makanan, jika anak terlihat bosan, ubah teksturnya, belajar naik tekstur perlahan.

Kemudian di usianya yang 9 menuju 10 bulan saya mengenalkan dairy foods (produk olahan susu sapi) --walaupun sebenarnya sudah boleh dikenalkan di usia 8 bulan-- pengenalannya pun sebatas unsalted butter (mentega tawar) yang diolah pada campuran tumisan/kukusan. Sekarang usia anak kedua saya menginjak 11,5 bulan masih agak ditahan pemberian kejunya, menghemat pemberian rasa untuk "jimat" saat dia mulai terlihat bosan :D.

Saat anak GTM Ibu harus tenang, kalau kasus di saya, musti makan enak dulu supaya oksitosin lancar, hihiiii... :D

  1. Cari penyebabnya (fisiologis atau psikologis)
  2. Sembuhkan penyebabnya
  3. Mulai tekstur baru, campur ½ bagian tekstur lama dengan ½ porsi tekstur baru
  4. Rasa baru, nah soal rasa selain yg sudah dijelaskan di atas, rasa bisa diakali dari minimnya penggunaan bumbu hingga  terus bertambah, sampai ke cara pengolahan masakan. Urutan pengolahan makanan dari yg hambar sampai gurih; kukus - tumis - goreng. Penggunaan minyak nabati atau mentega juga berpengaruh dalam mengikat rasa. Oia, penggunaan minyak ini sekarang juga sudah masuk ke dalam piramida makanan yah, tapi tetap dengan penggunaan yang bijak.
  5. Suasana baru, bisa dari piranti makan, teman makan, atau posisi duduknya. Posisi duduk maksudnya bila anak dengan aktifitas banyak (seperti anak pertama saya) ada kalanya dia diperbolehkan makan sambil main sepeda
    di dalam rumah (tetap ga boleh keluar :D) tapi, si anak yang datang ke piring, bukan piringnya yang nyamperin anak ya.

Pantau terus kenaikan berat badan anak terutama di 2 tahun pertama, berikan contoh makanan sehat. Kalau orang tua tidak suka buah, tetap sajikan buah di rumah, ubah pola makan orang tua, jika mau anak makan sehat, orang tua juga harus makan sehat dong ah, kalau mau anak makan sayur, Ibu/Ayah makan sayur juga dong, kasih liat ke anak kalau sayur itu makanan yang paling nikmat :D

Kembali ke makanan yang sehat, makanan rumah tangga yang diolah sendiri lebih baik, apalagi jika yang masak Ibu, pasti ditambah bumbu cinta yang nggak bisa dibeli di pasar mana pun :)

*Nandra Janniata
@nandraa*

You are here: Home Tips for Mom Tips Trik Makan Sehat ala Nandra Janniata